Pintu Rejeki
Kira-kira pukul 00.00 dini hari sepeda motorku berlari kencang di
jalan-jalan utama Semarang, selain faktor keamanan juga disibukkan
dengan deadline tugas kantor yang harus diemailkan segera. Kulihat kiri
kanan trotoar para pedagang kaki lima bertebaran menemani aktivitas
muda-mudi yang bergumul hingga larut malam.
Tidak ada terlintas pikiran untuk mampir sejenak menikmati secangkir
kopi hangat, aku hanya berzikir, berzikir, dan berzikir berharap
keselamatan hingga sampai ke tempat tujuan. Tiba-tiba ada suara meletus
di ban depanku “Cess” spontan aku pun terucap, “Astagfirullah ya Allah,
apa ada ya tambal ban buka malam-malam begini?” Kulihat kiri kanan tidak
ada tampak tanda-tanda kehidupan hanya lapak-lapak yang berada di
sudut-sudut jalan.
Kutuntun sepeda motorku, terkadang muncul keluhan di hati “Ya Allah
jika tahu begini, sedari kemarin tugas kantor ini sudah kukerjakan,
nasib… nasib.” Cukup jauh kutuntun sepeda motorku hingga akhirnya
seorang bapak menghampiriku dari belakang,
“Mas, mau tambal ya di depan ada mas, sini saya bantu,” kata bapak itu sambil turun dari sepeda ontelnya dan ikut mendorong sepeda motorku.



